Beranda > Tak Berkategori > (022) POTENSI KEMAMPUAN KEWIRAUSAHAAN DILIHAT DARI KARAKTERISTIK SOSIOLOGIS SANTRI DI PONDOK PESANTREN

(022) POTENSI KEMAMPUAN KEWIRAUSAHAAN DILIHAT DARI KARAKTERISTIK SOSIOLOGIS SANTRI DI PONDOK PESANTREN

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pondok pesantren merupakan salah satu jenis lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia. Berdasarkan hasil pendataan dari Departemen Agama pada tahun 1984-1985 diperoleh keterangan bahwa pesantren tertua didirikan pada tahun 1062 atas nama Pesantren Jan Tampes II di Pamekasan Madura (Depag RI, 1984/1985:668), tetapi menurut Mastuhu (1994 : 19) hal ini diragukan, karena tentunya ada Pesantren Jan Tampes I yang lebih tua. Dalam buku Departeman Agama banyak dicantumkan pesantren tanpa tahun pendirian, jadi ada kemungkinan Pesantren tersebut ada yang berusia lebih tua. Mastuhu menduga bahwa Islam telah diperkenalkan di Kepulauan Nusantara sejak abad ke-7 M oleh para musafir dan pedagang muslim, melalui jalur perdagangan dari teluk Persia dan Tiongkok yang telah dimulai sejak abad ke-5. Kemudian, sejak abad ke-11 M dapat dipastikan Islam telah masuk ke Kepulauan Nusantara melalui kota-kota pantai. Hal ini terbukti dengan ditemukannya:

1. Batu nisan atas nama Fatimah binti Maimun yang wafat pada tahun 474 H atau tahun 1082 M di Leran Gresik.

2. Makam Malikus Saleh di Sumatra bertarikh abad ke-13 M.

3. Makam Wanita Islam bernama Tuhar Amisuri di Barus, Pantai Barat Pulau Sumatra bertarikh 602 H.

Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa penyebaran dan pendalaman Islam secara intensif terjadi pada masa abad ke-13 M sampai akhir abad ke-17 M. Dalam masa itu berdiri pusat-pusat kekuasaan dan studi Islam, seperti di Aceh, Demak, Giri, Ternate/Tidore, dan Gowa Tallo di Makassar. Dari pusat-pusat inilah kemudian Islam tersebar ke seluruh pelosok Nusantara, melalui para pedagang, wali, ulama, mubaligh, dan sebagainya; dengan mendirikan pesantren, dayah, dan surau (MUI, 1986 : 13-14). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pesantren telah mulai dikenal di bumi Nusantara ini dalam periode abad ke-13-17 M, dan di Jawa terjadi dalam abad ke-15-16 M.

Menurut Mastuhu (1994 : 21), tentang riwayat berdirinya sebuah Pesantren diawali dengan kelana seorang ulama untuk menyebarkan agamanya dengan diikuti oleh satu-dua orang santrinya, yang bertindak sebagai cantrik, yaitu orang yang magang (belajar ilmu) pada kiai. Ulama atau kiai tersebut adakalanya terminal atau berhenti menetap lebih dulu di pinggiran desa atau hutan kecil sekitar desa, kemudian mengadakan pengajian kepada satu-dua orang desa, yang akhirnya diikuti oleh seluruh masyarakat desa.

Pesantren menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat muslim, dan dewasa ini diperkirakan telah menampung lebih dari satu juta santri. Pesantren telah diakui sebagai lembaga pendidikan yang telah ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Terutama di zaman kolonial, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sangat berjasa bagi umat Islam. Tidak sedikit pemimpin bangsa terutama dari angkatan 1945 adalah alumni atau setidak-tidaknya pernah belajar di pesantren.

Tujuan utama pendirian Pondok Pesantren adalah untuk menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat atau berkhidmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau abdi masyarakat tetapi rasul, yaitu menjadi pelayan masyarakat sebagaimana kepribadian Nabi Muhammad (mengikuti sunnah Nabi), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat (‘izzul Islam wal Muslimin), dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia. Idealnya pengembangan kepribadian yang ingin dituju ialah kepribadian muhsin, bukan sekedar muslim (Mastuhu, 1994 : 56).

Tujuan masyarakat belajar di Pondok Pesantren adalah untuk mendalami ilmu agama Islam, dan mengamalkannya sebagai pedoman hidup keseharian, atau disebut tafaqquh fiddin, dengan menekankan pentingnya moral dalam hidup bermasyarakat.

Menurut Muhammad Nour Auliya (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0704/15/1103.htm), ada.dua klisifikasi Pondok Pesantren, yaitu pesantren tradisional dan pesantren modern. Sistem pendidikan pesantren tradisional sering disebut sistem salafi, yaitu sistem yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren. Pondok pesantren modern merupakan sistem pendidikan yang berusaha mengintegrasikan secara penuh sistem tradisional dan sistem sekolah formal (seperti madrasah). Hubungannya antara kewirausahaan dengan pesantren, terutama pada pesantren modern adalah, para santrinya mendapat pelajaran di kelas yang lebih lama dibanding para siswa sekolah umum. Ini karena mata pelajarannya lebih banyak. Para santri juga dibekali berbagai keterampilan seperti menjahit, membuat kerajinan tangan, berwirausaha, bercocok tanam, bela diri, keterampilan berbahasa, berpidato, komputer, dan berbagai macam ekstrakurikuler. Untuk memperlancar bahasa asing, pada waktu-waktu tertentu, para santri diharuskan untuk berbicara menggunakan bahasa Arab atau Inggris dalam percakapan sehari-hari. Kurikulum yang ada pada pesantren baik salaf maupun modern sangat sesuai dengan prinsip-prinsip dasar yang ada dalam kewirausahaan, antara lain, bagaimana membangun karakter yang tangguh, kreatif, inovatif, cerdas, mandiri, produktif dan mampu memanfaatkan peluang atau sumberdaya yang ada. Karenanya, dengan pengertian yang luas itu, maka pengembangan budaya kewirausahaan mestinya mencakup lintas bidang, bukan bisnis atau usaha belaka.

Pada umumnya, para pemuda-pemudi sangat dipengaruhi oleh orangtuanya dalam hal memilih jenis dan lembaga pendidikan. Dalam konteks pondok pesantren hal ini sangat penting kalau ingin tahu siapa yang memilih pendidikan pesantren daripada pendidikan sekolah umum. Misalnya, kalau seorang santri berasal dari keluarga yang kaya dan sudah terbiasa dengan kehidupan yang mewah dan nyaman, mungkin santri tersebut akan merasa keberatan kalau bersekolah di pondok pesantren yang mementingkan kesederhanaan, atau kalau orangtua santri adalah orang yang sangat aktif dalam urusan masyarakat, bidang keagamaan dan sangat rajin beragama, maka si santri tersebut mungkin akan lebih cepat memeluk ajaran yang dia temukan di pondok karena sudah terbiasa.

Salah satu program yang penting berkaitan dengan sangat terbatasnya lapangan pekerjaan di Indonesia adalah pengembangan budaya kewirausahaan (entrepreneurship). Kewirausahaan di sini hendaknya jangan dipahami hanya sekedar kemampuan membuka usaha sendiri. Namun lebih dari itu, kewirausahaan haruslah dimaknai sebagai momentum untuk mengubah mentalitas, pola pikir dan perubahan sosial budaya.

Sedangkan pengertian kewirausahaan sendiri adalah kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan (peluang) bisnis serta kemampuan mengoptimalisasikan sumberdaya dan mengambil tindakan serta bermotivasi tinggi dalam mengambil resiko dalam rangka mensukseskan bisnisnya ( http://www.deptan.go.id/pusbangwiranis/istilah.html). Menurut Sudhamek AWS (http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg00433.html), entrepreneur adalah orang yang mampu melihat peluang, berani mengambil peluang dan mampu mewujudkan peluang tersebut. Kemampuan seperti itu sangat relevan untuk setiap calon Entrepreneur dan pelaku bisnis yang mempunyai keinginan kuat untuk berhasil. Selain daripada itu, Entrepreneur yang sukses memiliki banyak karakter positif seperti kreatif dan inovatif, berani mengambil resiko, tangguh menghadapi tantangan, serta jujur pada diri sendiri dan orang lain Sementara itu menurut Winarto kewirausahaan adalah peran yang dilakukan oleh seseorang dimana salah satu kegiatannya adalah berinovasi. Kewirausahaan tidak hanya di perusahaan swasta yang berorientasi mencari laba, melainkan juga di lembaga nirlaba dan di pemerintahan. (http://www.pertamina.com/indonesia/head_office/hupmas/news/BPertamina/2004/Juni/14_Juni/BP120604M203.htm).

Peran wirausaha adalah memperbaharui dengan merusak secara kreatif (creative destruction maker) dengan keberanian melihat dan mengubah apa yang sudah dianggap mapan, rutin, dan memuaskan. Peran lain dari wirausaha adalah sebagai Inovator (innovator) yang menghadirkan hal-hal baru di masyarakat. Juga mengambil dan memperhitungkan risiko (risk calculator). Wirausaha juga berperan mencari peluang dan memanfaatkannya (opportunity seeker and exploiter). Serta menciptakan organisasi baru (organization maker). Selanjutnya hasil karya wirausaha itu sendiri adalah untuk menghasilkan sumberdaya baru yang sejahtera dan juga dapat meningkatkan kemampuan sumberdaya yang ada untuk menciptakan kesejahteraan bersama, kewirausahaan dapat berjalan dengan baik jika pelaksananya memiliki karakteristik pribadi wirausaha.

Dalam mengembangkan antara wirausaha dan inovasi, wirausaha adalah orang yang melakukan inovasi sedangkan orang yang tidak sedang melakukan inovasi dianggap tidak melakukan peran sebagai wirausaha. Dan inovasi itu sendiri mempunyai pengertian yang sedikit lebih spesifik, yaitu suatu usaha untuk menciptakan perubahan yang terfokus dan disengaja di bidang ekonomi atau potensi sosial suatu organisasi. (http://www.pertamina.com/indonesia/head_office/hupmas/news/BPertamina/2004/Juni/14_Juni/BP120604M203.htm).

Kemampuan kewirausahaan menjadi salah satu hal yang tengah digiatkan di lembaga pendidikan Pondok Pesantren, tujuannya agar santri tidak hanya mampu menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku sekolah atau Pondok Pesantren, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan bukan sibuk untuk mencari lapangan pekerjaan yang semakin terbatas. Contohnya adalah dengan memberikan kecakapan hidup (life skill) yang berupa kemampuan beternak, budidaya perikanan, perkebunan, pengolahan obat-obatan, berdagang, perbengkelan otomotif, dan permebelan. Santri yang masuk dalam lembaga pendidikan pondok pesantren terdiri dari berbagai latar belakang karakteristik sosiologis yang berbeda-beda, perbedaan tersebut masing-masing terletak pada perbedaan asal daerah, status sosial ekonomi orangtua, tingkat pendidikan orangtua, dan jenis pondok pesantren dimana santri tersebut belajar, tetapi ada pertanyaan yang perlu dicari jawabannya disini adalah apakah potensi kemampuan kewirausahaan seorang santri memiliki perbedaan dengan pelbagai latar belakang karakteristik sosiologis tersebut? Hal ini mengingat adanya asumsi awal bahwa setiap orang memiliki potensi kemampuan kewirausahaan.

Penelitian ini berusaha mengungkap bagaimana potensi kemampuan kewirausahaan santri ditinjau dari beberapa latar belakang karakteristik sosiologis santri di Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Modern Daarul Fikri di JL. Margojoyo VII/6 Dau Malang dan Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Syamsul ‘Arifin di Desa Pukul Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas maka satu masalah penelitian yang akan dikaji secara khusus adalah terkait dengan pertanyaan: adakah perbedaan potensi kewirausahaan santri ditinjau dari beberapa variabel karakteristik sosiologis? Secara operasional masalah penelitian itu dirumuskan sebagai berikut:

1. Adakah perbedaan potensi kemampuan kewirausahaan santri ditinjau dari klasifikasi asal daerah?

2. Adakah perbedaan potensi kemampuan kewirausahaan santri ditinjau dari status sosial ekonomi keluarga?

3. Adakah perbedaan potensi kemampuan kewirausahaan santri ditinjau dari klasifikasi tingkat pendidikan formal orang tua santri?

4. Adakah perbedaan potensi kemampuan kewirausahaan antara santri pada pondok pesantren yang berorientasi tradisional (salafi) dan santri pada pondok pesantren yang berorientasi modern?

C. TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan Umum

Dari permasalahan diatas maka tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan potensi kewirausahaan santri ditinjau dari beberapa variabel karakteristik sosiologis santri.

2. Tujuan Khusus

Dari tujuan umum di atas dijabarkan sebagai berikut:

a) Mengetahui perbedaan potensi kemampuan kewirausahaan santri ditinjau dari klasifikasi asal daerah.

b) Mengetahui perbedaan potensi kemampuan kewirausahaan santri ditinjau dari status sosial ekonomi keluarga.

c) Mengetahui perbedaan potensi kemampuan kewirausahaan santri ditinjau dari klasifikasi tingkat pendidikan formal orang tua santri .

d) Mengetahui perbedaan potensi kemampuan kewirausahaan santri di pondok pesantren yang berorientasi tradisional (salafi) dengan santri pondok pesantren yang berorientasi modern.

D. KEGUNAAN PENELITIAN

Penelitian ini dianggap penting untuk dilakukan karena temuan-temuan yang diperoleh dapat bermanfaat bagi:

1. Bagi PLS

Temuan penelitian ini dapat menjadi tambahan referensi atau masukan bagi telaah, kajian dan pengembangan PLS, khususnya mengenai kontribusi antara karakteristik sosiologis terhadap kemampuan kewirausahaan santri.

2. Bagi Pondok Pesantren

Pondok Pesantren dapat mengambil temuan penelitian ini sebagai bahan pertimbangan di dalam mengambil kebijakan atau keputusan untuk mengembangkan bakat dan minat santrinya.

3. Bagi Pemerintah

Pemerintah dalam hal ini khususnya pihak DEPAG, organisasi keislaman, beserta instansinya dapat memanfaatkan penelitan ini sebagai masukan di dalam melakukan dan pengembangan kewirausahaan, khususnya pada generasi muda atau santri pesantren yang ada di wilayah kerjanya.

4. Bagi Universitas Negeri Malang

Temuan dari penelitian ini merupakan tambahan khasanah keilmuan yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa maupun dosen yang berkepentingan dengan hasil penelitian ini, baik untuk kajian maupun dikembangkan lebih lanjut.

E. HIPOTESIS PENELITIAN

Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Arikunto, 1998:67). Berdasarkan pengertian di atas, maka hipotesis yang dirumuskan adalah:

1) H0-1 : Tidak ada perbedaan potensi kemampuan kewirausahaan santri ditinjau

dari klasifikasi asal daerah.

2) H0-2 : Tidak ada perbedaan potensi kemampuan kewirausahaan santri ditinjau dari status sosial ekonomi keluarga.

3) H0-3 : Tidak ada perbedaan potensi kemampuan kewirausahaan santri ditinjau dari klasifikasi tingkat pendidikan formal orang tua santri .

4) H0-4 : Tidak ada perbedaan potensi kemampuan kewirausahaan santri di pondok pesantren yang berorientasi tradisional (salafi) dengan santri pondok pesantren yang berorientasi modern.

F. ASUMSI PENELITIAN

1. Setiap orang memiliki potensi kemampuan kewirausahaan.

2. Setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda-beda

3. Potensi kemampuan kewirausahaan santri berbeda-beda

4. Latar belakang sosial santri seperti pendidikan, pekerjaan orang tua, dan asal daerah berbeda-beda

5. Orientasi khusus setiap pondok pesantren bervariasi

G. RUANG LINGKUP PENELITIAN

1. Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah jumlah total santri yang berada pada masing-masing lembaga pendidikan pondok pesantren yang berbeda aliran.

2. Obyek Penelitian

Obyek yang diteliti oleh penulis adalah potensi kemampuan kewirausahaan dilihat dari karakteristik sosiologis santri di pondok pesantren.

3. Jabaran Variabel

VARIABEL

SUB VARIABEL

INDIKATOR

SUMBER DATA

METODE

Potensi kemampuan kewirausahaan

Mampu melihat peluang

a. Teliti

b. Inovatif

c. Kreatif

Santri

Skala sikap

Berani mengambil peluang

a. Tidak takut

akan kegagalan

b. Mempunyai tujuan yang jelas

c. Percaya diri tinggi

Mampu mewujudkan peluang

Rela untuk bekerja keras

Kecakapan pribadi

a. Disiplin diri

b. Ulet

c. Terampil

d. Sabar

e. Tekun

Kecakapan sosial

a. Kesadaran diri

b. Pengaturan diri

c. Motivasi

d. Empati

e. Keterampilan sosial

Karakteristik sosiologis santri

Asal daerah santri

a. Berasal dari dalam daerah lembaga pendidikan Pondok Pesantren

b. Berasal dari dalam daerah lembaga pendidikan Pondok Pesantren

Santri

Angket

Status sosial ekonomi orangtua santri

a. Pekerjaan orang tua santri

b. Penghasilan orangtua santri

c. Aset yang dimiliki oleh orangtua santri

Tingkat pendidikan formal orangtua santri

a. Mengikuti Pendidikan formal (SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA, PT, Lembaga Pendidikan pondok Pesantren).

b. Tidak sekolah sama sekali

G. BATASAN ISTILAH DAN DEFINISI OPERASIONAL

1. Batasan Istilah

Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda dalam pengertian ini, maka perlu adanya definisi istilah yang berkaitan dengan judul penelitian, yaitu:

a. Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.

b. Santri adalah peserta didik yang belajar di lembaga pendidikan Pondok Pesantren yang diasuh oleh Kiai

c. Kemampuan kewirausahaan adalah kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan (peluang) bisnis serta kemampuan mengoptimalisasikan sumberdaya dan mengambil tindakan serta bermotivasi tinggi dalam mengambil resiko dalam rangka mensukseskan bisnisnya.

d. Karakteristik sosiologis yang dimaksud disini adalah beberapa kriteria klasifikasi santri yang dilihat berdasarkan asal daerah, latar belakang pendidikan orangtua, dan status sosial ekonomi orang tua santri pada dua pondok pesantren yang beraliran salaf dan beraliran modern.

2. Definisi Operasional

a. Potensi kemampuan kewirausahaan adalah sejumlah keahlian yang dimiliki oleh seseorang untuk bisa menciptakan kerja bagi orang lain dengan berswadaya.

b. Asal daerah adalah klasifikasi jarak antara asal daerah atau tempat tinggal santri dengan lokasi Pondok Pesantren, yang diklasifikasi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang berasal dari dalam daerah kabupaten Malang (PP Daarul Fikri) dan Pasuruan (PP Syamsul ‘Arifin) dan dari luar kabupaten Malang (PP Daarul Fikri) dan Pasuruan (PP Syamsul ‘Arifin). Disebut berasal dari dalam daerah jika tempat tinggalnya berada didalam daerah kabupaten Malang (PP Daarul Fikri) dan Pasuruan (PP Syamsul ‘Arifin), disebut dari luar jika tempat tinggalnya berada diluar daerah kabupaten Malang (PP Daarul Fikri) dan Pasuruan (PP Syamsul ‘Arifin).

c. Status sosial ekonomi keluarga adalah derajad nilai atau martabat yang diberikan berdasarkan indikator keadaan keluarga inti santri yang diukur melalui jumlah penghasilan per bulan, jenis tempat tinggal, alat transportasi dan komunikasi. Terhadap semua indikator itu akan diberikan skor dan berdasarkan total skor itu diklasifikasikan menjadi status sosial ekonomi tinggi jika berada di atas rata-rata dan rendah jika di bawah rata-rata.

d. Tingkat pendidikan orang tua santri adalah jumlah tahun seseorang setelah mengikuti lembaga pendidikan formal maupun non formal yang dilalui oleh orang tua santri

e. Jenis pondok pesantren atau orientasi pondok pesantren adalah kecenderungan orientasi kurikulum yang diterapkan oleh lembaga pendidikan pondok pesantren yang dibedakan menjadi dua jenis yaitu: salafi dan modern. Disebut Salaf karena tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren, dan disebut Modern karena berusaha mengintegrasikan secara penuh sistem tradisional dan sistem sekolah formal (seperti madrasah).

dapatkan file lengkapnya

klik disini

About these ads
Kategori:Tak Berkategori
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: